Kamis, 14 Mei 2015

Jual Pancawarna Klawing | Parade Batu Akik di Jemari PNS Purbalingga

Jual Pancawarna Klawing - Kantor Instansi Kependudukan & Catatan Sipil Purbalingga tampak ramai kepada Kamis, 18 Pebruari 2015. Antrean penduduk tidak demikian panjang, tetapi lumayan padat. Tapi ada satu pemandangan yg menarik kepada tampilan para Petugas negara sipil di kantor ini.

Bukan cuma baju, jemari Petugas Lembaga Kependudukan serta nampak seragam. Mereka memanfaatkan cincin dari batu akik yg didapat dari Sungai Klawing, Purbalingga. “Sejak diwajibkan Pak Bupati, kami serta-merta memanfaatkan cincin akik seluruh,” kata Sri Yulianti, Petugas negara sipil di Lembaga Kependudukan Purbalingga, Kamis, 19 Pebruari 2015.

Akik yg digunakan Sri berukuran mungil, berlainan dgn Petugas laki-laki yg akiknya lebih gede. Sri pun memanfaatkan liontin & gelang yg terbuat dari batu akik.

Biarpun mesti memanfaatkan perhiasan serba akik, Sri mengemukakan layanan terhadap warga tidak terganggu. Terkecuali melayani pengerjaan akta kelahiran, Sri pun mengurusi pelaksanaan card keluarga.

Kepala Instansi Kependudukan Purbalingga Nur Hamam mengemukakan semua Petugas di Instansi tersebut telah memanfaatkan batu akik, tepat bersama instruksi Bupati Purbalingga Sukento Ridho Marhaendrianto. “Kami bangga sebab ini product lokal Purbalingga,” jelasnya.

Dirinya tentukan pemakaian perhiasan akik oleh Petugas Instansi Kependudukan tidak mengganggu layanan pada warga. Nur sendiri pilih cuma memanfaatkan dua cincin akik walau seluruhnya koleksinya mampu memenuhi seluruhnya jarinya.

Tempo coba menelusuri proses pengerjaan batu akik mulai sejak dari pencarian di Sungai Klawing sampai pemolesan. Di Sungai Klawing, tiap-tiap hri ada warga yg mencari batu akik.

Mereka mengambil tas ransel buat memuat batu akik yg ditemukan. “Sekarang telah sejak mulai langka. Dahulu aku sanggup mampu satu kuintal,” kata Mulyoto, penambang batu akik di Sungai Klawing.

Batu yg paling diminati ialah batu darah kristus atau le sung du christ. Warga lokal menyebutnya batu nogo sui. Batu bermotif dominan hijau bersama bercak merah darah & kuning itu tengah jadi buruan kolektor batu.

Bambang Suheri, perajin batu akik di Desa Bancar, menyampaikan harga nogo sui jikalau telah jadi cincin bervariasi, dari beberapa ratus ribu sampai beberapa ratus juta rp, bergantung kepada motif. “Kalau motif naga, mampu begitu mahal,” jelasnya.

waktu ini, kata dirinya, batu nogo sui telah susah sekali dicari. Lantaran, masyarakat Purbalingga yg lalu bukan produsen batu saat ini ikut berburu batu ini.

Nun jauh di daerah hulu sungai, penambang batu bahkan tak sekadar menyusuri sungai utk mencari bongkahan batu yg terbawa arus. “Tapi telah sejak mulai mencongkel tebing sungai bersama linggis. Ini amat sangat berbahaya bagi kelestarian lingkungan,” ucap Isro Hadi, pegiat lingkungan di Purbalingga.  sumber : tempo.co

Tidak ada komentar:

Posting Komentar